Thursday, June 23, 2011

IDEALISME & MATERIALISME

SEKlLAS PANDANG TENTANG ALlRAN FILSAFAT MODERN

 

I. IDEALISME

 

a.Pengertian Pokok.

Idealismeadalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu.

 

b.Perkembangan Idealisme.

Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. Yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.

Aristotelesmemberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu.

Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang saran sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.

Pada jaman Aufklarung (pencerahan) ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsure kerohanian lebih penting daripada kebendaan. Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman Idealiasme pada masa abad ke-18 dan 19 ketika periode Idealisme. Jerman sedang besar sekali pengaruhnya di Eropa.

 

c.Tokoh-tokohnya.

1.Plato (477 -347 Sb.M)

2.B. Spinoza (1632 -1677)

3.Liebniz (1685 -1753)

4.Berkeley (1685 -1753)

5.Immanuel Kant (1724 -1881)

6.J. Fichte (1762 -1814)

7.F. Schelling (1755 -1854)

8.G. Hegel (1770 -1831)

 

II. MATERIALISME

 

a. Pengertian Pokok.

Materialismemerupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu.

 

b. Perkembangan Materialisme.

Pada abad pertama masehi faham Materialisme tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap faham Materialisme ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), Materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropa Barat.

Pada abad ke-19 pertengahan, aliran Materialisme tumbuh subur di Barat. Faktir yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham Materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti.

Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama dimana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Pada masa ini, kritikpun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang menentang Materialisme.

Adapun kritik yang dilontarkan adalah sebagai berikut :

 

1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari chaos

(kacau balau). Padahal kata Hegel. kacau balau yang mengatur bukan lagi kacau balau namanya.

2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga.

3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan.

4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.

 

c. Tokoh-tokohnya.

1. Anaximenes ( 585 -528)

2. Anaximandros ( 610 -545 SM)

3. Thales ( 625 -545 SM)

4. Demokritos (kl.460 -545 SM)

5. Thomas Hobbes ( 1588 -1679)

6. Lamettrie (1709 -1715)

7. Feuerbach (1804 -1877)

8. H. Spencer (1820 -1903)

9. Karl Marx (1818 -1883)

 

 

Sunday, June 19, 2011

CINTA KEPADA ALLAH SWT dan CINTA KEPADA MANUSIA ; Mungkinkah Dipadukan?

Nabi Muhammad SAW bersabda :“Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, hadits ke : 5972)

Di Dalam ajaran Islam, Mengasihi Sesama Manusia adalah bagian terpenting dari ajaran Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Baitnya. Mencintai umat manusia adalah realisasi dari ajaran al-Qur’an, yang mana pengutusan Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat dan wujud kasih saying Allah SwT atas Alam Semesta ,“Tiadalah Kami mengutusmu (Wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (Ku) atas Alam Semesta” (QS Al-Anbiya’ [21] ayat 107).

Ayat di atas sekaligus menjelaskan tujuan dari diutusnya Muhammad SAW sebagi Rasul dan Nabi, yaitu memanifestasikan Kasih Tuhan ke seluruh penjuru semesta.

Di dalam hadits lainnya diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, ”Demi Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah masuk Surga kecuali orang yang memiliki rasa kasih sayang.”

Para sahabat menyahut, “Kami semua memiliki kasih sayang!”

Nabi berkata, “Bukan itu yang kumaksudkan, kalian bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki kasih sayang jika kasih sayang kalian juga dilimpahkan kepada seluruh umat manusia dan alam semesta” 79]

Mungkin kita pernah berdoa, ”Ya Allah, kasihanilah kami”

Tetapi bagaimana jika ditanyakan kepada kita,”Apakah kalian sendiri juga suka menyayangi?”

Atau hampir setiap waktu kita berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah kami” Tetapi bagaimana jika ditanyakan kepada kita,”Seberapa banyak kalian telah memberi maaf kepada manusia?”

Nabi SAW bersabda, “Allah Yang Maha Rahman mengasihi dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang, karena itu kasihilah mereka yang di bumi niscaya mereka yang di langit juga mengasihimu!” 80]

Rasa belas kasih berarti kepekaan terhadap kondisi atau status dari semua ciptaan Tuhan, baik itu manusia, binatang atau bahkan tumbuh-tumbuhan.

Seseorang tidak mungkin bisa memiliki rasa belas kasih kecuali jika ia memiliki kepedulian kepada kebutuhan dan kondisi- kondisi orang lain.

Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Zakat dan Khumus atas kaum muslimin untuk membebaskan kaum yang lemah, yatim piatu, para janda, orang-orang miskin dan tertindas demi jiwa kaum muslimin itu sendiri. Sebab kepekaan, dan kepedulian kepada mereka yang lemah (dhu’afa) merupakan stimulasi untuk membersihkan jiwa (nafs) agar tumbuh pula kecintaan dan kasih sayang dari jiwa yang telah tersucikan tadi.

Bahkan puasa yang diwajibkan pada bulan Ramadhan itu pun bertujuan untuk itu (‘illat), sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ja’far al-Shadiq as, “Allah mewajibkan puasa untuk mempersamakan si kaya dan si miskin. Dengan puasa orang kaya akan merasakan derita lapar untuk menumbuhkan rasa belas kasihnya kepada si miskin, karena selama ini si kaya tidak pernah merasakannya. Allah menghendaki untuk menempat­kan makhluk-makhluk-Nya pada suatu pijakan yang sama dengan jalan membuat si kaya turut merasakan nestapanya lapar, sehingga ia menaruh belas kasih kepada orang yang lemah dan lapar.” 81]

 

KISAH SUFI ABU BIN ‘AZHIM

Diriwayatkan bahwa seorang sufi besar, Abu bin Azhim, suatu waktu terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah-tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu bin Azhim bertanya: “Apa yang sedang anda kerjakan?” “Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan”, jawab sang malaikat.

Abu bin Azhim ingin sekali namanya tercantum sebagai salah seorang pencinta Tuhan didalam daftar tersebut. Dengan cemas ia mencoba melongok kedaftar itu, tapi kemudian ia sangat terpukul dan kecewa, karena ternyata namanya tidak

tercantum di daftar tersebut.

Ia pun bergumam: “Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia”. Beberapa hari kemudian ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya dipenuhi cahaya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi.

Abu bin Azhim kembali mencoba melihat daftar para pencinta Tuhan, dan ia pun sangat terkejut, karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun bertanya kepada sang malaikat sambil terheran-heran, “Aku ini bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia, bagaimana mungkin namaku tercantum sebagai salah seorang pencinta Tuhan?”. Sang malaikat pun menjawab, “Baru saja Tuhan berfirman kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia” 82]

Rasulullah saww juga bersabda, “Kecewa dan Merugilah orang yang Allah tidak mengaruniai di dalam hatinya rasa kasih saying kepada umat manusia.”83]

Mencintai Rasulullah SAW sama dengan mencintai Allah SWT, mencintai orang tua kita sama dengan mencintai Allah SWT, mencintai sesame manusia sama dengan mencintai Allah SwT.

Seorang ‘Arif bi Allah, yaitu, Ahmad ibn Muhammad al-Sawih al-Maliki al-Khalwati berkata, “Engkaulah Muhammad, pintu Allah (Baab Allah), tanpa engkau tidak sampai orang kepada-Nya. Dia, Muhammad, pintu Allah yang agung dan rahasia-Nya (sirruhu), yang membanggakan.

Sampainya seseorang kepada Muhammad juga sampainya orang itu kepada Allah, karena sesungguhnya dua hadhrat (Allah dan Muhammad) adalah satu dan siapa yang membedakannya berarti dia belum mengenyam nikmatnya Ma’rifah!” 84]

Kita akan mendengar satu kisah lagi yang sangat indah yang berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi-Nya, yaitu percakapan Imam Husain as, yang saat itu masih kanak-kanak, dengan ayahnya, Imam Ali as, sang Insan kamil.

 

DIALOG IMAM HUSAIN AS DENGAN AYAHNYA

Sewaktu masih kecil Imam Husain as (cucu Rasulullah SAW) bertanya kepada ayahnya, Imam Ali as, “Ayah, apakah engkau mencintai Allah?”

Imam Ali as menjawab, “Ya, Tentu!”

Lalu Husain kecil bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?” (maksudnya Rasulullah)

Imam Ali as kembali menjawab, “Ya, tentu saja!”.

Imam Husain bertanya lagi, “Apakah engkau juga mencintai Ibuku?”

Lagi-lagi Imam Ali as menjawab, “Ya, Tentu saja aku mencintai ibumu”

Husain kecil kembali bertanya, “Apakah engkau juga mencintaiku?”

Imam Ali as tersenyum dan menjawab, “Ya, tentu saja aku juga mencintaimu!”

Terakhir kali Husain kecil bertanya,”Ayahku, bagaimana bisa engkau menyatukan begitu banyak cinta di dalam hatimu?”

Imam Ali as kemudian menjelaskan kepada puteranya yang sangat dicintainya itu, “Wahai Anakku, pertanyaanmu hebat! Ketahuilah, cintaku pada kakek dari ibumu (Rasullah SAW), ibumu (Fathimah as) dan kepadamu sendiri adalah karena cintaku kepada Allah. Karena sesungguhnya semua cintaku itu adalah cabang-cabang cintaku kepada Allah Swt”

Setelah mendengar penjelasan ayahnya itu, Husain kecil tersenyum mengerti. 85]

 

MENCINTAI MANUSIA SAMA DENGAN MENCINTAI TUHAN

Mencintai manusia, pada hakikatnya, sama dengan mencintai Tuhan, karena manusia dan alam ini adalah manifestasi-Nya juga.

Di balik nama-nama Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, Husain atau pun isteri, anak-anak kita, atau siapa pun, sejatinya, di sanalah bersimpuh wajah-Nya dan manifestasi dari nama-nama-Nya.

Al-Qur’an bahkan mewasiati kita agar kita saling nasihat menasihati didalam menetapi kebenaran, kesabaran dan kasih sayang! : “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakkan, atau memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir, dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (Lihatlah al-Qur’an Surat Al-Ashr dan QS 90 : 17)

Rasulullah saww bersabda : “Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih saying dan Dia melimpahkan Rahmat-Nya atas orang-orang yang memiliki kasih sayang”

(Kanz al-‘Ummal hadits ke : 10381)

LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH.

Thursday, June 16, 2011

ATAS NAMA CINTA

Cinta adalah rasa suka yang tidak sekadar suka. Yaitu suatu rasa yang mengharapakan apa yang di sukainya selalu dekat dengannya, selalu di ingatnya, dan sejalan dengannya. Efek dari adanya rasa cinta adalah kerelaan pengorbanan terhadap apa yang dicintainya. Maka berhati-hatilah dengan cinta!

Tidak salah memiliki rasa cinta karena rasa cinta adalah fitrah bagi manusia yang telah dikabarkan dalam Al-Qur'an.

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”(QS.Ali Imran : 14 )

Sejak didalam syurga Nabi Adam a.s telah di karuniakan rasa cinta terhadap wanita yaitu Ibu Hawa.

Setelah diturunkan di bumi Nabi Adam a.s berpisah selama bertahun-tahun dan akhirnya dipertemukan lagi di bukit Jabal Rahmah dan rasa cinta diantara keduanya tidak pudar.

Begitu kuatnya rasa cinta, waktu dan ruang tidak dapat menyirnakannya. Tak sedikit orang yang nekat berbuat konyol hanya karena cinta. Bunuh diri karena dihianati cinta, bunuh diri karena cinta ditolak, bunuh diri karena cinta ditentang orang tua, berani kepada orang tua karena lebih membela orang yang dicintainya, dan masih banyak lagi. Jika cinta telah menguasai dirinya, apapun yang dilakukan karena ATAS NAMA CINTA.

Dengan cinta manusia bisa mencapai derajat tinggi, dengan cinta manusia bisa menjadi manusia yang hina. Sungguh salah jika manusia tunduk dan ditundukkan oleh cinta. Manusia seharusnya dapat menguasai cinta. Artinya manusia akan dikuasai cinta jika dia berbuat segala sesuatu hanya karena atas nama cinta, tapi dia akan menguasai cinta jika dapat menempatkan cinta pada proporsi yang semestinya. Yaitu mampu menimbang dan menentukan prioritas kepada siapa rasa cintanya akan diberikan. Dan cinta yang tertinggi seharusnya hanyalah kepada Allah Swt. Dia-lah prioritas cinta manusia-manusia utama. Manusia-manusia yang bisa menguasai rasa cintanya.

Apa yang dilakukannya bukan karena atas nama cinta, tapi atas kesadaran tinggi bagaimana dia dapat memanfaatkan karunia ALLAH SWT yang berupa rasa cinta. Dia cinta kepada ALLAH bukan karena rasa cinta tanpa dasar, tapi karena dia sadar kemana dia harus menujukan rasa cintanya.