Thursday, June 9, 2011

Cara Ber-Istiqomah di Zaman Modern

Ditulis oleh Dewan Asatidz

Bagaimana agar kita tetap istiqomah dalam bertaqwa pada jaman sekarang ini karena sekarang banyak sekali godaannya, terutama dengan semakin majunya peradaban jaman..? Assalamu'alaikum, Aaya ingin bertanya dalam rubrik ini.

  1. Bagaimana untuk meyakinkan bahwa semua kebaikan dan kejahatan itu adalah atas kehendak Allah swt..?
  2. Bagaimana agar kita tetap istiqomah dalam bertaqwa pada jaman sekarang ini karena sekarang banyak sekali godaannya, terutama dengan semakin majunya peradaban jaman..?

 Wassalam M. Tohir Tangerang

Jawab

1. Pernyataan Anda perlu saya luruskan dengan keterangan sbb: Pertama, Allah menurunkan ajaran yang fitri/alami/natural (karenanya tidak bisa disebut sebagai beban) demi kebaikan/kebahagiaan manusia; Kedua, Allah menghendaki agar ajaran itu dilaksanakan sebaik-baiknya; Ketiga, namun begitu Allah menyerahkan pada manusia mau menerima perintah itu atau tidak, manusia harus berusaha sendiri untuk melaksanakan ajaran tsb. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa kejahatan (dengan arti kemaksiatan) itu kehendak Allah swt. Coba Anda renungi ayat berikut: "Dan katakanlah: 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'.

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat

istirahat yang paling jelek.” (QS.Al-Kahfi/18:29)

Perlu ditegaskan di sini adanya perbedaan antara kejahatan dengan arti madharat/balaa', dan kejahatan dengan arti kemaksiatan. Pada hakekatnya memang satu, tapi dua. Jelasnya demikian, pencurian adalah tindakan kejahatan, baik dari sisi pencuri atau orang yang tercuri. Tapi bila kita kaitkan dengan istilah madharat/balaa' dan maksiat, maka akan jelas perbedaannya: si pencuri melakukan kemaksiatan (pencurian), dan si tercuri terkena madharat (pencurian). Dan tindakan mencuri (kemaksiatan) sama sekali bukan kehendak Allah.

Nah, orang yang tertimpa madharrat atau balaa' tidak berarti tertimpa kejelekan.

Renungkan hadis Nabi berikut: Seseorang mengeluh ke Rasulullah: "Wahai Rasul, harta saya hilang dan badan saya sakit." Jawab beliau: "Kebaikan (keberuntungan) itu tidak terdapat pada orang yang hartanya tidak hilang dan badannya tidak sakit. Karena sesungguhnya, jika Allah memang mencintai seorang hamba Allah menurunkan cobaan padanya lantas membekalinya kesabaran." Hadis ini menyiratkan bahwa kejelekan/keburukan itu bukanlah identik dengan kenikmatan duniawi. Tapi kebaikan adalah kesabaran itu sendiri.

 

2. Sebelum membahas bagaimana tetap Istiqamah dalam bertakwa, perlu Anda ketahui mengenai apa sebenarnya taqwa itu (mena'ati perintah dan menjauhi larangan Allah Swt). Saya hanya ingin menegaskan bahwa taqwa itu tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ibadah murni, seperti shalat, puasa, zakat, dll. Tapi taqwa juga meliputi hal-hal yang sifatnya duniawi, asal itu baik dan bermanfaat. Kita menekuni apa yang menjadi hobi dan keahlian kita kendati itu hanya semata bersifat duniawi namun bermanfaat bagi semua makhluk di bumi ini juga taqwa. Sebab Allah melarang tindakan-tindakan yang berakibat pada rusaknya lingkungan, dan Allah juga menegaskan agar kita jangan sampai melupakan persoalan-persoalan duniawi yang menopang kemaslahatan hidup kita di dunia. Singkatnya, orang Islam itu harus jaya di dunia dan jangan sampai melupakan akheratnya. Oleh karena demikian luasnya wilayah taqwa, maka dengan sendirinya problem istiqamah juga tidak sama. Jika problem istiqamah Anda menyangkut hal 'ibadah, misal Anda sesekali berani melanggar perintah agama, seperti shalat, puasa, dll), Anda perlu meningkatkan wawasan keakhiratan. Sebab kebanyakan faktor yang menyebabkan terputusnya kontinyuitas/istiqamahnya suatu kegiatan (baik kegiatan duniawi atau ukhrawi) tiada lain adalah minimnya wawasan. Setidaknya yang bisa Anda lakukan sendiri adalah menghidupkan kesadaran akan adanya kehidupan sesudah mati atau kehidupan akherat.

Saya kira semua orang Islam meyakini adanya kehidupan akherat, hanya saja kenyataannya tidak sedikit orang-orang yang lupa akan hal itu. Mereka terlelap dalam kenikmatan duniawi. Maka orang seperti ini perlu disadarkan mengenai kehidupan akherat, dimana orang yang sebagian besar hidupnya penuh ketaatan akan masuk surga dan bila didominasi kemaksiatan akan masuk neraka.

Bertanya-tanyalah dalam hati Anda: apa sebenarnya tujuan hidup Anda? Apa hanya ingin cukup dengan kenikmatan duniawi? dengan semata melimpahnya harta-dunia apakah ketenangan batin bisa didapat? Tidakkah batin akan tenang dengan menaati perintah-perintah agama, berdzikir/mengingat Allah? Kalau pertanyaan-pertanyaan (muhaasabah) seperti ini belum mempan juga, sering-seringlah memikirkan "seandainya besok aku mati". Dan jika hati Anda sudah tergerak untuk rajin melakukan ibadah, hanya saja Anda menghadapi problem lain, misal kurang mengetahui cara-cara ibadah dengan benar, Anda harus bertanya ke ahlinya. Dan jika problem istiqamah itu menyangkut soal keduniaan, maka kita perlu meningkatkan wawasan/ilmu pengetahuan tentang keduniaan. Yang bisa Anda lakukan mula-mula adalah menetapkan program, rencana- rencana, dan target. Anda juga harus meningkatkan kedisiplinan, kesungguhan, dan ketulusan.

Bangunlah kesadaran bahwa diri kita juga harus memberi manfaat pada orang lain. Sebab sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi lingkungannya. Untuk melengkapi tema istiqamah, berikut ini saya ambilkan tulisan Dr. Nurcholish Madjid yang berjudul "Istiqamah Di Zaman Modern" dalam bukunya Pintu-Pintu Menuju Tuhan. ***

ISTIQAMAH DI ZAMAN MODERN Istiqamah artinya teguh hati, taat asas, atau konsisten. Meskipun tidak semua orang bisa bersikap istiqamah, namun memeluk agama, untuk memperoleh hikmahnya secara optimal, sangat memerlukan sikap itu. Allah menjanjikan demikian: "Dan seandainya mereka itu bersikap istiqamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan kepada mereka air yang melimpah." (QS.Al-Jinn/72:16).

Air adalah lambang kehidupan dan lambang kemakmuran. Maka Allah menjanjikan mereka yang konsisten mengikuti jalan yang benar akan mendapatkan hidup yang bahagia. Tentu saja keperluan kepada sikap istiqamah itu ada pada setiap masa, dan mungkin lebih-lebih lagi diperlukan di zaman modern ini. Karena kemodernan (modernitas, modernity) bercirikan perubahan. Bahkan para ahli menyebutkan bahwa kemodernan ditandai oleh "perubahan yang terlembagakan" (institutionalized change). Artinya, jika pada zaman-zaman sebelumnya perubahan adalah sesuatu yang "luar biasa" dan hanya terjadi di dalam kurun waktu yang amat panjang, di zaman modern perubahan itu merupakan gejala harian, dan sudah menjadi keharusan. Lihat saja, misalnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi microchip (harfiah: kerupuk kecil) dalam teknologi elektronika. Siapa saja yang mencoba bertahan pada suatu bentuk produk, baik dia itu produsen atau konsumen, pasti akan tergilas dan merugi sendiri. Karena itulah maka "Lembah Silikon" atau Silicon Valley di California selalu diliputi oleh ketegangan akibat kompetisi yang amat keras.

Adanya kesan bahwa "perubahan yang terlembagakan" itu tidak memberi tempat istiqamah adalah salah. Kesalahan itu timbul antara lain akibat persepsi bahwa istiqamah mengandung makna yang statis. Memang istiqamah mengandung arti kemantapan, tetapi tidak berarti kemandekan. Melainkan lebih dekat kepada arti stabilitas yang dinamis. Dapat dikiaskan dengan kendaraan bermotor: semakin tinggi teknologi suatu mobil, semakin mampu dia melaju dengan cepat tanpa guncangan.

Maka disebut mobil itu memiliki stabilitas atau istiqamah. Dan mobil disebut dengan stabil bukanlah pada waktu ia berhenti, tapi justru ketika dia melaju dengan cepat. Maka begitu pula dengan hidup di zaman modern ini. Kita harus bergerak, melaju, namun tetap stabil, tanpa goyah. Ini bisa saja terwujud kalau kita menyadari dan meyakini apa tujuan hidup kita, dan kita dengan setia mengarahkan diri kepadanya, sama dengan mobil yang stabil terus melaju ke depan, tanpa terseot ke kanan-kiri. Lebih-lebih lagi, yang sebenarnya mengalami "perubahan yang terlembagakan" dalam zaman modern ini hanyalah bidang-bidang yang bersangkutan dengan "cara" hidup saja, bukan esensi hidup itu sendiri dan tujuannya. Ibarat perjalanan Jakarta-Surabaya, yang mengalami perubahan hanyalah alat transportasinya, mulai dari jalan kaki, sampai naik pesawat terbang. Tujuannya sendiri tidak terpengaruh oleh "cara" menempuh perjalanan itu sendiri. Maka ibarat mobil yang stabil yang mampu melaju dengan cepat, begitu pula orang yang mencapai istiqamah tidak akan goyah, apalagi takut, oleh lajunya perubahan. Dia hidup dinamis, berjalan di atas kebenaran demi kebenaran, untuk sampai akhirnya kembali kepada Tuhan, sang Kebenaran Mutlak dan Abadi. Dan kesadaran akan hidup menuju Tuhan itulah yang akan memberi kebahagiaan sejati sesuai janji Tuhan di atas.

*** Semoga bermanfaat.

Wassalam Arif Hidayat

www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article&id=915:cara-ber-istiqomah-di-zaman-modern&catid=1:tanya-jawab

Wednesday, June 8, 2011

Lirik Lagu Citra Scholastika EVERYBODY KNEW

Lirik Lagu Citra Scholastika
Everybody Knew


♫♫... ketika ku lihat kau bersama dia
tak ada penyesalan dalam hidupku & apa yang ku rasakan saat ini
seperti dahulu ku tak mengenalmu..♫♫

♫♫..ketika ku lihat
kau bersama dia
tak ada lagi hasrat
dalam hidupku
kepada dirimu yang dulu tercinta
tak ada lagi kenangan, takkan lagi harapan
reff:
everybody knew you're a liar
everybody knew you're a player
everybody knew you're never serious risk your love at me and i tell
you once again baby
repeat *

repeat reff [3x]
serious risk your love at me
and i tell you once again oh baby

Tuesday, June 7, 2011

JANGAN JATUH KELUBANG YANG SAMA

Imam Syafi'i pernah mengungkapkan sebuah ungkapan yang bunyinya : "Tafakkur satu jam, lebih baik dari ibadah satu tahun."

Sepintas, ungkapan Imam Syafi'I tersebut berlebihan. Bagaimana mungkin sebuah amal yang dilakukan dalam rentang 1 jam, bisa lebih baik dari ibadah selama satu tahun?

Ungkapan Imam Syafi'i itu tentu tidak disampaikan dalam konteks perbandingan yang saling menafikan antara yang satu dengan yang lain. Imam Syafi'I tidak mengajak agar orang melakukan tafakkur satu jam, lalu tak perlu beribadah selama satu tahun. Sama sekali tidak. Ia hanya ingin menekankan pentingnya merenung, menghisab diri, mengevaluasi amal yang telah lalu, menekuri hidup, dan seterusnya. Sikap ini sangat penting dan bahkan menjadi syarat seseorang untuk mampu memiliki kualitas ibadah yang lebih baik.

Ada beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan agar kita terbiasa mengambil pelajaran dari masa lalu, baik dari apa yang telah dilakukan diri sendiri, maupun orang lain.

Merenung, Bermuhasabah, atau Mengevaluasi Amal dalam Satu Hari, Kebiasaan seperti inilah yang dilakukan seorang sahabat yang menurut Rasulullah sebagai ahli surga. Dalam hadits shahih disebutkan dalam tiga kesempatan Rasulullah menyinggung kedatangan sahabat calon penghuni surga itu di dalam majelis para sahabat.

Ahli surga itu ternyata bukan ahli ibadah yang kuantitas ibadahnya melebihi para sahabat lain. Ia hanya kerap melakukan evaluasi diri menjelang tidurnya setiap malam, lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama muslim.

Dalam kitab "Bukaul Mabrur" yang mengulas tentang tangisan orang-orang shalih disebutkan perkataan salafushalih, "Para orangtua kami selalu menghitung diri dari apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka ucapkan, kemudian mereka menulisnya dalam sebuah daftar. Setelah shalat Isya', mereka mengeluarkan daftar amal dan ucapannya kemudian menimbangnya. Jika amalan yang diperbuat buruk dan perlu istighfar, maka mereka bertaubat dan beristighfar.

Namun jika amalannya baik dan perlu disyukuri, mereka pun bersyukur kepada Allah hingga mereka tidur. Kami pun mengikuti jejak mereka. Kami mencatat apa yang kami perbuat dan menimbangnya."

Memiliki Agenda Harian untuk Mengevaluasi Amal-amal yang Telah Dilakukan Agenda harian ini berisi daftar amal harian yang dianggap wajib dilakukan. Misalnya saja, kewajiban shalat Subuh dan Isya di masjid, memulai pekerjaan dengan Bismillah, membaca istighfar minimal 100 kali, membaca Al-Qur'an sekian halaman, dan sebagainya.

Sebaiknya catat pula alasan, problem, dan hambatan yang menjadikan kita tidak mampu menunaikan amal-amal harian tersebut. Mencatat hambatan amal-amal baik akan menjadi bahan pengalaman agar bisa diantisipasi pada waktu selanjutnya. Sebagaimana setiap orang akan menerima lembaran-lembaran amalnya selama di dunia pada pengadilan akhirat nanti, setiap muslim sangat

dianjurkan untuk menghitung-hitung sendiri amal-amalnya sejak di dunia. Tujuannya jelas, agar segala keburukan tidak terulang, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi. Umar RA memberi nasehat, "Hasibuu anfusakum, qabla an tuhasabuu." Hisablah amal-amal kalian sendiri, sebelum amal-amal kalian dihisab (oleh Allah dihari kiamat)."

Imam Hasan Al-Bashri mengatakan, "Sesungguhnya penghisaban di hari kiamat akan ringan bagi kaum yang telah menghisab amalannya di dunia, begitu pula sebaliknya penghisaban di hari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalannya di dunia."

Biasakan Menilai dan Mempertajam Kontrol Terhadap Diri Sendiri Seseorang yang takjub dengan pribadi Hasan Al-Bashri pernah bertanya, "Siapa yang mendidikmu memiliki pribadi seperti ini?" Hasan Al-Bashri menjawab pendek, "Diriku sendiri." "Bagaimana bisa seperti itu?" tanya orang itu lagi. Hasan menguraikan, "Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri." Sikap ulama shalih generasi Tabi'in itu jelas menekankan pentingnya seseorang mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa.

Teorinya sederhana, meniru yang baik dan menghindari yang tidak baik. Tapi hasilnya, prinsip itulah yang melahirkan pribadi yang menakjubkan. Apa yang melatarbelakangi Hasan Al-Bashri berprinsip seperti itu?

Tidak lain untuk menghindari kekeliruan masa lalu, baik yang dilakukan diri sendiri maupun orang lain. Itu kuncinya, sehingga dari hari ke hari ia selalu berupaya memperbaiki kepribadiannya.

Sadarilah bahwa Belajar dari Pengalaman Akan Menambah Kedewasaan dan Kebijaksanaan dalam Menyikapi Hidup Semakin banyak orang bercermin terhadap masa lalu, maka ia akan semakin bijaksana dalam menentukan langkah.

Saat mendapat kelapangan, seseorang tidak akan mudah larut oleh kesenangan. Ia berpikir bahwa ada kalanya lapang dan ada kalanya sempit.

Saat mendapat kesulitan, ia juga tak mudah hanyut. Karena ia berpikir bahwa kesulitan akan silih berganti dengan kemudahan Dan seterusnya.

Perbandingan seperti ini membuat seorang mukmin tetap bersyukur apapun kondisi yang ia alami. Itulah variasi dan itulah wujud kesempurnaan hidup sehingga saling melengkapi.

Tanpa sikap seperti ini, orang akan mudah terkena penyakit jiwa. Mudah gelisah dan selalu merasa tidak puas. Ia bahkan sulit merasa bahagia karena selalu terombang ambing oleh dinamika hidup itu sendiri.

Ketahuilah bahwa dalam Batas Tertentu Kesalahan dan Kekeliruan adalah Lumrah Allah SWT tidak menciptakan manusia sempurna.

Selalu saja ada manusia yang lebih di sini dan kurang di sana. Atau sebaliknya, lebih di sana dan kurang di sini. Sehingga prinsipnya jangan takut gagal dalam beramal. Tidak jarang, kegagalan dan kesalahan merupakan batu loncatan ke arah kebaikan. Setidaknya ia menjadi spirit untuk melakukan penebusan. Makna ini antara lain yang terkandung dalam pesan Rasulullah agar kita mengiringi segala keburukan yang kita lakukan dengan kebaikan. "Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Selami Sejarah Orang-orang yang Hidup di Masa Lalu Dengan mengetahui masa lalu, berarti seseorang memiliki modal informasi berharga sebagai bekal perjalanan yang ia lakukan di masa mendatang. Peristiwa apapun, baik dilakukan oleh sebuah generasi maupun orang per orang, harus menjadi cermin perbandingan melangkah kedepan. Kehidupan ini tak ubahnya cermin pengulangan masa lalu. Silih berganti antara keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesedihan.

Semuanya berputar dan berganti bagai pergantian siang dan malam. Firman Allah SWT, "Dan hari-hari itu kami pergilirkan di

antara manusia..." (QS. Ali Imran : 140).

Itulah hikmah dari penjabaran sejarah perjuangan para Rasul dan Nabi yang tertuang dalam Al-Qur'an. Allah SWT membina mental perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya melalui uraian panjang tentang perjuangan para Nabi dan Rasul sebelum mereka. Jejak sejarah perjuangan itulah yang akan menjadi rambu bagi umat manusia sepanjang zaman dalam menegakkan kebenaran.

Fir'aun hanya satu tokoh sejarah yang diungkapkan Al-Qur'an. Ia merupakan simbol penguasa yang melakukan kekejaman dan penindasan terhadap rakyat, sekaligus memusuhi ajaran Allah SWT yang dibawa oleh Nabiyullah Musa AS.

Mungkinkah saat ini muncul tokoh penguasa semacam Fir'aun? Justru itulah inti pelajaran sejarah yang dipaparkan Al-Qur'an. Melihat sejarah sepak terjang Fir'aun, manusia diajak mengerti bagaimana bahayanya kejahatan yang datang dari sebuah kekuasaan. Lebih berbahaya dari kejahatan kriminal berupa pembunuhan atau perampokan. Kisah Fir'aun juga memberi gambaran kepada para penegak kebenaran bahwa mereka akan selalu menghadapi gembong-gembong kejahatan. Karena setiap zaman memiliki 'Fir'aun'nya sendiri.

Seringlah Berdiskusi, Bertukar Pengalaman, Saling Menasihati dengan Orang-orang Shalih Tentang Berbagai Fenomena Hidup Seorang pemikir menyebutkan, "Manusia itu ibarat burung yang bersayap sebelah." Tak mungkin bisa terbang, jika ia tak memiliki sayap pasangannya. Maka, ia hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat dan bekerjasama dengan orang lain.

Begitulah analoginya, setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk bisa berhasil dalam hidup.

Apa artinya? Setiap orang harus bisa saling memberi dan membantu satu sama lain. Rasulullah mengistilahkan hal ini dengan sabdanya, "Setiap mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang lain." Cermin, sumber informasi paling akurat dan jujur tentang berbagai fenomena.

Cermin tempat memperoleh penilaian tentang diri, kapan pun dan di mana pun. Cermin juga pandai menyimpan informasi hanya pada pihak yang langsung terkait dengan informasi itu.

Roda kehidupan takkan pernah berhenti bergulir. Hari demi hari terus berjalan. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menyongsong hari esok. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya membuat kita menjadi lebih baik dari yang telah lalu. Terlalu banyak pengalaman yang seharusnya menjadikan kita berhati-hati dan berhitung matang untuk melangkah. Terlalu banyak peringatan untuk menyadarkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.